Wednesday, February 27, 2013
I'm done with you
Sounds lebay? But it's true.
Blackberry (bb) saya udah bisa dibilang nempel banget. Kami berpisah cuman kalo saya mandi, kerja di dapur, dan olahraga aja. Sisanya selalu ada bersama saya. Hebat, bahkan orang pacaran aja ga bisa sedeket itu yah.
Nah kemarin itu hari terakhir saya pake bb. Setelah bb off, entah dapet angin dari mana ya rasanya sediiiih. Inget2 jasa bb saya selama ini. Bb saya selalu saya pake untuk audio record waktu konsultasi tugas akhir. Dia juga nemani saya twitteran waktu nunggu di bus/mrt jaman kuliah dulu. Dia juga yang menyimpan message2 berharga dari doi. Dia juga yang selalu ada disana kalo ada hal2 penting harus dicatat segera. Wuah, agak ga rela gitu mau pisah. Entahlah, jelek2 dan lemotnya bb ini seakan akan sirna. Mungkin ini yah namanya cinta karena terbiasa. Ga pernah terpikirkan sebelumnya kalo akan terasa sampe begini.
Miris banget. Pisah sama gadget yang tiap hari dah deket rasanya sediiih, tapi ga sedih kalo lupa bersyukur buat segala sesuatunya yang udah Tuhan kasih. Padahal Dia lebih setia, lebih mengasihi kita, mengatur segala sesuatunya dan yang terpenting itu adalah Dia hidup. Ga kayak gadget kita, yang bekerja nurut perintah kita doang dan bahkan sering kali ngadat. *ngaca* huhuhu, maap ya Tuhan.
Well, it's been almost 3 years, my dear blackberry. Thanks for everything. :*
Thursday, February 14, 2013
Love day.
Kemarin pak Prima ternyata meninggalkan jejak di lemari saya. Awalnya saya ga sadar, tapi waktu mau ambil baju ada sesuatu di atas tumpukan baju. Tapi diatasnya ada pesan dari kartu handmade bunyinya kurang lebih: Happy Valentine's day! Keep calm and wait 'till 14th Feb. ;)
Hari ini saatnya buka bingkisan kemarin. Waktu dibuka baunya harum dan khas, wadahnya bagus dan unik.
Cuman sekotak coklat dengan isian. Apa artinya?
Bukan coklatnya, tapi kerelaannya. Pak Prima suka sekali liqueur filled chocolate seperti ini. Tapi justru dia beli untuk kado saya hari ini. Saya jadi diingatkan lagi bahwa to love is to sacrifice. Thanks yaaa pak Prima. ❤
And yes, Happy Valentine's day, everyone! You are loved! :D
Wednesday, February 6, 2013
In a week #4
Senin. Masih opname.
Pagi2 seperti biasa, rutinitas suster-suster terus berlanjut. Tapi hari ini saya dag dig dug duerrr. Kenapa? Kadar trombosit dari cek darah hari ini menentukan kapan bisa keluar rs. Dan benar aja, hari ini trombositnya masih 59ribu. As I said di postingan sebelumnya, memang obat-obat yang bikin trombosit naik bukan dari badan yang berasa udah baikan. Tapi God is still good. Tuhan tau banget sifat saya. Justru trombosit yang tak kunjung naik dengan signifikan ini bikin saya makin rajin makan, rajin minum, mengurangi gerak-gerak (turun ranjang dll), dan rajin check infus kalo-kalo infusnya melambat netes. Tapi malam itu terjadi hal yang lebih menakutkan daripada ketemu "teman" yang ngajak kenalan waktu itu. Apa? Ganti posisi infus! Astagaaaa, mau dicoblos mana lagi nih, huhu. Tangan kiri emang udah bengkak banget, mungkin karena dah 4 hari ya cairan infus masuk disitu. Tapi dipaksa pindah infus. Ya udah, ditemani papa, saya rela-relain lah tangan kanan mau dipasang infus. *nyiiit* sakit infusnya dimasukkan dibawah kulit. Lalu *nyiiit nyiiit*, kok kayaknya ditusuk-tusukin terus? Kok waktu kemarin pasang di tangan kiri ga sakit? Ternyata sodara-sodara, susternya yang masang kurang pinter alias gagal. Alhasil ga jadi pindah infus dan langsung biru deh tangan kanannya. Grrr. Oke, untuk pelajaran ke depan, kalo mau pasang infus orangnya kudu pinter. Aih, tapi amit-amit deh diinfus, kalo bisa jangaaan. Anyway, malamnya semangat untuk sembuh masih ada. Dengan tekat bulat saya tidur nyenyak sampai pagi.
Jam 5 paginya (hari selasa nih), saya sudah bangun untuk makan lagi, berharap jam 6 waktu cek darah trombosit bisa melesat naik. Singkat cerita, praise God deh hari itu trombosit saya pas 100ribu, ga kurang ga lebih. Hebaaat. Waktu dokter dateng, saya tagih janjinya untuk memperbolehkan saya pulang esok hari. Oke, so malam itu infus dah dilepas (liat foto). Tapi badan masih lemas, dan entah kenapa berasa ngantuk terus. Ah well, malam itu saya rasa-rasain tidurnya sambil mikir "ini malam terakhir! Besok udah di kamar sendiri.." :D
Rabu pagi, hari kemerdekaan. Masih terus cek darah, badan lemas, ngantuk terus, tapi senang hari ini bisa pulang. Hasil cek darah? 120ribu sodara-sodara. Badan saya rupanya lama juga ya untuk pemulihan, apalagi udah lepas infus. Tapi seperti janjinya, dokter menyatakan saya bebas bersyarat (kayak tahanan aja). Maksudnya boleh pulang, tapi masih harus minum vitamin liver, obat maag, dan obat mampet untuk diare yang belom sembuh. Lemas tapi happy dan bersyukur, saya pulaaaaaaang! :D
Hari ini, tepat udah 2 minggu keluar dari RS. Walau sudah jauh lebih sehat, saya masih harus istirahat dan ga boleh kecapekan karena ternyata liver saya belom normal, hampiiiir. But still, I'm thankful beyond words.
Lewat postingan ini saya mau berterima kasih karena Tuhan dah sertai dan lindungi saya. Lalu terima kasih juga untuk papa mama cece koko yang nemenin selalu waktu di RS. Terima kasih untuk doa-doa yang sudah dipanjatkan temen-temen preuB, nenek tua dan nenek muda, dudud dan keluarganya, keluarga besar GSPII Pamekasan, sodara-sodara dari papa dan mama dan teman-teman lain yang ga tersebutkan. Terima kasih untuk yang sudah menyempatkan dateng ke RS, bahkan ada yang berkali-kali. Terima kasih banyak. :D
Again, I'm thankful beyond words. Thank You, Jesus!!
*end, ciao!
Tuesday, January 29, 2013
#penting #notetomyself
Setuju?? Naaaah, yang jadi masalah adalah mana yang benar mana yang salah. Mana yang baik, mana yang tidak baik. Mana yang benar, mana yang terlihat benar tapi tidak terlalu baik. Mana yang lebih menguntungkan, mana yang tidak efektif. Mana yang ujungnya bukit keberhasilan, mana yang ujungnya jurang kegagalan.
Papa (dan memang sangat terlihat dalam kehidupannya) selalu bilang "Kamu harus cari hikmat Tuhan buat ambil keputusan, meskipun itu hal sepele.." Dan hari ini renungan tentang hikmat itu sendiri. Sooo, saya diingatkan sekali lagi untuk selalu mencari hikmat Tuhan dengan sikap hati yang benar. :D
God bless!! ;)
//
Bacaan : Yakobus 1:1-8
Nats: Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah. (Yakobus 1:5)
Judul: MEMINTA HIKMAT
Seorang pemain golf profesional baru saja membuat pukulan bagus. Sayang, bolanya masuk ke sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang dibuang sembarangan. Menurut peraturan, jika ia sengaja mengeluarkan bola itu, maka ia mendapat hukuman. Namun kalau ia memukul bola bersama kantong kertas itu, ia tidak mungkin bisa memukul dengan baik. Si pemain pun berpikir sejenak untuk mencari hikmat. Tak lama kemudian, ia mengambil korek dari sakunya dan membakar kantong kertas tadi. Sesudah itu, ia dapat memukul bola golf itu lagi dengan pukulan terbaiknya.
Di perjalanan hidup ini, kerap kita menjumpai peristiwa yang tak terduga dan belum pernah kita alami. Sebagian di antaranya bisa jadi berupa ujian yang berat (ayat 1-3)--baik dalam berkeluarga, dalam membesarkan anak, dalam bekerja, dalam bergaul, dalam melayani Tuhan, dan dalam banyak aspek lain lagi. Kita membutuhkan hikmat untuk menghadapinya. Namun, dalam kondisi sulit, wawasan dan pengalaman kita bisa terasa tak cukup. Sebagai anak Tuhan, di mana kita dapat memperoleh hikmat untuk dapat memilih sikap dan tindakan yang tepat?
Yakobus memberi kita kelegaan bahwa bila kita merasa kekurangan hikmat, kita boleh memintanya kepada Allah (ay. 5). Asal kita meminta dengan iman, Dia akan memberikan hikmat itu tanpa syarat. Dia akan memberi kita hikmat praktis untuk mengatasi kesulitan kita. Dia akan memberi kita hikmat untuk dapat melihat sebuah keadaan sebagaimana Allah melihat sehingga kita tahu bagaimana bersikap secara tepat bagi setiap pribadi dan dalam setiap situasi. --AW
LIHATLAH MASALAH DARI CARA ALLAH MELIHAT MAKA IA TAKKAN TAMPAK SESULIT KETIKA IA PERTAMA TERLIHAT
*Yakobus 1:1-8:
1 Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus, kepada kedua belas suku di perantauan.
2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.
5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya.
6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.
7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.
Monday, January 28, 2013
In a week #3
Seperti biasa, pagi-pagi suster udah hiruk pikuk dengan kesibukan masing-masing. Saya udah mulai biasa dengan rutinitas tiap paginya. Hari minggu sudah diduga akan banyak tamu, dan bener aja, saudara dan teman-teman datang berkunjung dari pagi sampai malam. Senangnyaaa. Terima kasih buat saudara dan teman-teman yang udah nyempatin mampir ke RS, really appreciate it.
Keadaan saya hari Minggu? Sebenarnya makin hari makin turun (emang DBD begitu sih katanya). Jumat check darah, trombositnya masih 112ribu. Sabtu check darah, trombositnya turun jadi 58ribu. Minggu yang udah ga demam check darah, trombositnya drop lagi jadi 21ribu. Lantas suster-suster makin heboh aja. Nambain infus 1 lagi dan saya harus minum obat "sip" (kata susternya) buat naikin trombosit. Lalu saya ga boleh korek-korek upil maupun bersin, dan harus waspada kalau ada pendarahan (misalnya keluar darah dari kemaluan, atau gusi berdarah waktu gosok gigi). Wah, jadi super hati-hati. Sorenya, ambil darah lagi. Dan thank God trombositnya naik jadi 38ribu. Ternyata, paginya saya nyaris masuk ICU. Jadi kalo trombosit udah dibawah 20ribu, ada resiko pendarahan mendadak dan prosedur di RS itu harus di kontrol di ICU. Wow, God is superrrrr good.
Malem itu, "teman" yang ngajak saya waktu itu datang lagi. Tapi kali ini dia sendirian dan cuman ngeliat saya aja sambil senyum-senyum, senaaaang gitu tampangnya. Dalam hati cuman bergumam "yeh.. Dateng lagi.." Tapi belom apa2 udah ilang sendiri. Ah well, ya udah saya biarin aja. Tapi mungkin efek dari hati yang terlalu bersuka cita siang harinya, saya entah kenapa berasa sangat down. Galau mungkin sebutan kerennya. Rasanya cemas sekali. Saya tau, badan saya belom membaik. Memang trombosit udah naik, tapi itu pasti karena didongkrak sama infus dan obat tambahan, bukan dari antibodi saya sendiri. Yah, di RS ga ada orang, ga bisa tidur. Malam itu galau bener dah sampe nangis sendiri di kamar. Saya cuman bisa berdoa aja. Tapi bersyukur, setelah capek nangis dan bergalau ria, akhirnya bisa tidur sebentar.
Well, God is super super good. :D
*ciao!
Saturday, January 26, 2013
In a week #2
Pagi-pagi suster-suster di RS udah lalu lalang. Dari nge-check suhu badan dan tekanan darah, lanjut ambil sample darah buat liat jumlah trombositnya, lanjut mandiin saya, sampe bawain sarapan saya pagi itu (ada di poto). Saya, yang pertama kali ngamar di RS dan ga pernah perduli sebelumnya, cuman bisa melongo ngeliat suster-suster pagi-pagi dah heboh. Se-ribet ini yah kalo opname..
Ga lama, ternyata papamama dah dateng pagi-pagi. Ah well, ga kesepian lagi deh. Disusul datengnya om sepupu dan tante, ruangan di RS yang kecil isi 2 pasien itu berasa penuh. (FYI, waktu itu lagi "ngantri" cari kamar yang lebi gedhe dan isi 1 orang aja, tapi belom dapet sampe pagi itu)
Abis ngobrol dan pamit, papamama nganter tante yang pamit pulang sampe ke parkiran, sekalian nanyain kamar yang gedhe udah dapet ato ga.
Saya di kamar, orang sebelah udah siap-siap mau pulang hari itu. Tiba-tiba aja di sebelah saya ada 4 orang muncul. Yang 3 duduk, yang 1 berdiri. Yang duduk itu 2 dewasa, yang 1 masih anak kecil. Mereka kegirangan banget tampangnya, senyum2 sambil ngajak-ngajak saya (bahasa jawanya: awe-awe) entah kenapa. Refleks saya dalem ati berdoa "ga mau ikut. Dalam nama Tuhan Yesus, pergi sana.." trus mereka ngilang gitu aja. Ga lama papamama dateng bawa surat keterangan buat pindah kamar. Waktu pindah, diluar ada ribut-ribut. Papa nanya, "ada apa sus kok ribut-ribut diluar?" Kata susternya, "oh itu pak, ada yang baru meninggal.. Tadi malem baru dateng, ini barusan ga ada.."
*duengggg* jadi yang tadi itu maksudnya ngajak saya pergi juga gitu? Ah well, bersyukur banget saya punya Tuhan yang Maha kuasa sampe mereka pun ga ada hak buat ngelakuin yang aneh-aneh. Saya percaya anak Tuhan sudah dimenangkan. Thank You, Jesus!!
*ciao!
Friday, January 25, 2013
In a week
Yah, sekitar jam segini (20.00wib) saya dengan badan hampir remuk dan demam yang sangat tinggi berangkat ke IGD salah satu rumah sakit (RS) di Surabaya. Perjalanan Pamekasan-Surabaya terasa sangat sangat sangat lamaaaaa sekali. Perut rasanya mual, di jalan ga bisa tidur, tulang dan kulit rasanya sakit semua. Takuuuut dan khawatir, bagaimana sakitnya nanti jarum infus kalo ditusuk ke kulit. Hiiiiiiiiii.
Sesampainya di RS, penanganan pertama yang dilakukan adalahhhh timbang berat badan. Oh no! Benda yang saya hindari (karena emang belom siappp menghadapinyahhh) selama ini HARUS dihadapi. Dan hasilnya.. *jengjengjeng* udah ah, jangan dibahas. Lalu, tes suhu badan dan tekanan darah. Laluuu, pasang infus. Dan ternyata sodara sodara, kalo yang masang infus pinter itu ga sakit2 amat. Justru kalo obatnya masuk itu baru terasa nyit nyit nyit gitu (masih merinding kalo inget rasanya gimana). Malem itu 2 cairan yang masuk lewat infus, yang 1 penurun demam yang 1 lagi cairan lain (entah apaan). Ya ude, masuk kamar pertama.
Malem itu papamama balik, saya di RS ajah. Orang sebelah masih nonton tipi keras2, thanks to ftv udah nemenin malem itu. Nothing serem happened malem itu, kecuali waktu susternya dateng bawa suntikan trus bilang "saya mau skin test untuk antibiotik ya, bakal sakit tapi nanti tangannya jangan ditarik ya.." OH MY. TAKUTTT. Tapi pasrah aja lah ya, tangan kiri udah terpasang infus 2 biji, sekarang tangan kanan mau skin test. Mau lari kemanaaaa coba. Dan beneran sodara sodara, skin test antibiotik itu sakit, panas, dan perih ke kulit. Thank God ga alergi antibiotik, jadi antibiotiknya disuntikin lewat infus deh.
Malem itu bersyukur Tuhan temenin dan kasi ketenangan, jadi bisa tidur cukup (walau tegang, takut, dll) sampe pagi. Oke, perjuangan menguatkan diri hari itu dah cukup. Cerita lainnya di RS ntar lanjut. ;)
*ciao!


